Jumat, 27 April 2012

Mahabharata: Karma untuk Dorna (Bambang Ekalaya)

Cerita ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berjudul:
MAHABHARATA : LICIKNYA RESI DORNA (BAMBANG EKALAYA)

~~~~


   Terlihat seekor kuda berada di depan gerombolan manusia. Kuda itu bukanlah musuh dan juga bukan kuda liar, melainkan kuda dari kepala pasukan.

   Keluarlah wanita cantik dan paras elok dari tirai tandunya,"paman apakah kita tidak salah jalan? Kita harus menyusuri Sungai Logangga".

"Entahlah gusti,hamba akan bertanggung jawab jika ada marabahaya".

"Kita jangan sampai masuk ke rimba Kamiaka,sebab sangat bahaya,"kata wanita itu mengingatkan.

   Itulah sekilas percakapan antara Anggraeni dengan Wilkapa,kepala pasukan yang menunggang kuda. Wilkapa terlihat gagah,tubuhnya tegap. Tangkai-tangkai rambutnya terlihat memutih. Itulah Wilkapa,kepala pasukan yang dikirim untuk menjaga istri raja Nisada yang hendak ke Indraprasta.

   Indraprasta adalah negeri makmur yang berasal dari rimba Kandawa. Negeri ini adalah buatan para Pandawa. Berkat keuletannyalah sebuah rimba menjadi negeri yang indah.

   Anggraeni dikirim ke Indraprasta untuk mengantikan kehadiran suaminya. Semua itu sebenarnya atas permohonan Anggraeni sendiri. Sedangkan Bambang Ekalaya tidak ikut dalam rombongan ini.

~~~~


   Tiba-tiba tingkah laku kuda menjadi aneh. Ringkikannya melengking, jalannya memutar tanda ada sesuatu yang tidak beres. Wilkapa berusaha mencari tahu mengapa kudanya ketakutan.

   Dahan-dahan bergoyang,daun-daun berguguran. Kuda Wilkapa berhenti. Sang kepala pasukan yang berada di depan berderap-derap jantungnya. Ia telah tau apa yang telah terjadi. Ratusan badan dengan tinggi hampir 3 meter manghadangnya.

"Hei kalian,berani sekali masuk kedalam wilayah kami. Sebagai gantinya, berikan semua harta yang kau bawa !,"kata seorang yang berwajah seram dan tinggi besar.

"TIDAK AKAN !! Semua ini adalah persembahan untuk negeri Indraprasta. Raksasa seperti kalian memang pantas untuk dihancurkan !!,"tantang Wilkapa.

"HAHA HAHAHA... Sombong sekali kau wahai manusia. Badan kecilmu akan ku gencet dengan mudah !"



   Akhirnya pertempuran antara pasukan Wilkapa dengan raksasa tak terelakan. Dengan tubuh besarnya raksasa dapat menahan serangan pasukan yang lebih tangkas dan pengalaman. Dalam sekejap rimba Wanawasa rusak olehnya. Puluhan batang pohon berserakan dimana-mana,tanda dahsyatnya pertempuran.

   Dua raksasa melihat sebuah bayangan tengah berlari menjauhi pertempuran. Mereka mengejarnya dan pemilik bayangan itu adalah Anggraeni,istri Bambang Ekalaya.

   Walau dihadang batu dan sungai, Anggraeni tetap berlari tak tentu arah. Hingga ia melihat lelaki tampan tengah memejamkan matanya. Lelaki yang sedang bersemedi itu tak mengetahui akan kedatangan Anggraeni.

"TOLOONG ! Tuan bangun tuan,tolonglah saya ,"anggraeni ketakutan hingga sengaja membagunkan pertapa itu.

"Baiklah, kau akan aku tolong. Dengan syarat kau akan membayarnya karena telah membangunkanku dari pertapaan".

"Baiklah, tapi tolonglah aku dulu dari kejaran raksasa !"

   Dengan mudah sang satria membunuh 2 raksasa itu. Setelah itu dia berucap, "sekarang aku akan menagih janjimu. Aku menginginkan dirimu sebagai gantinya !"

"Tetapi aku telah bersuami. Siapakah engkau sebenarnya wahai satria ?"

"Namaku adalah Arjuna,"katanya sambil memandang Anggraeni penuh pesona.

"ARJUNA, kebetulan kakak ini adalah isteri Prabu Nisada Bambang Ekalaya. Kakaklah Anggraeni. Selamat bertemu raden".

   Tetapi yang diajak bicara bukanlah arjuna yang berwatak satria. Dia telah terpengaruh oleh keelokan Dewi Anggraeni. Sudah tidak memandang bahwa wanita ini isteri raja agung yang sakti.

   Arjuna yang merah matanya,dengan penuh senyum aneh mendekati anggraeni. Melihat kelakuan ini anggraeni takut hingga akhirnya lari ketakutan.

"OH ANGGRAENI, TUNGGU ! JANGAN LARI !"

   Masuk keluar hutan hingga naik ke bukit dilakukan oleh Anggraeni. Namun Arjuna juga tak putus asa. Hingga akhirnya Anggraeni dihadang oleh jurang.

"Oh Anggraeni yang cantik. Mau kemanakah kau ?"

   Selangkah demi selangkah Arjuna mendekat. Matanya berbinar-binar dan bersenyum. Tangan Arjuna sangat dekat dengan Anggraeni.

   "AAAARGGGHH !!,"suara Arjuna terdengar sangat keras. Berteriak kaget sambil melongo ke arah jurang. Tiba-tiba munculah dewi terbang dari kahyangan yang telah membawa Anggraeni. Anggraeni baru saja melompat ke jurang hingga pingsan dan ditolong oleh Dewi Ipri, ibunya Anggraeni.

   "HEI ARJUNA, KAU TELAH BERBUAT YANG TIDAK SENONOH ! Kau akan menerima hukumannya kelak !,"kata Dewi Ipri sambil meninggalkan Arjuna.

~~~~

   "Sudahlah kalian pandawa jangan bertengkar. Arjuna memang bersalah tapi ia telah khilaf. Dan menurut lopian kita semua akan menghadapi serangan dari Nisada, jadi bersiaplah," kata Kresna.

   Kresna memang benar, pasukan pulahan ribu Nisada telah dikerahkan untuk menggempur Indraprasta. Di kejauhan barisan pasukan Nisada meliuk-liuk dan bergerak cepat bak ular yang siap menerkam.

   Pertarungan pun tak terhindarkan. Perang antara Nisada dan Indraprasta pun bergejolak sampai Bambang Ekalaya berpendapat bahwa masalah Anggraeni adalah urusannya dengan Arjuna, tak perlu membawa korban pasukan yang tak berdosa. Akhirnya Ekalaya menantang Arjuna 1 lawan 1.

   Pertarungan 1 lawan 1 dilayani Arjuna. Tapi semua berakhir dengan dibopongnya Arjuna oleh Kresna. Benar, Arjuna telah mati ditangan Ekalaya. Semua itu adalah hukuman untuk Arjuna karena kesalahannya. Takdirnya telah dituliskan oleh dewata.

Ditempat tersembunyi sesosok mirip Arjuna sedang berbicara dengan Kresna.

"Dosa apapun akan hamba terima. Sebab hamba tak tahan dengan hinaan dari negeri tetangga sebelah ".

"Baiklah kalau begitu, kanda akan beri jalan. Dan ketauilah bahwa Ekalaya tak dapat kau bunuh karena cincin yang dipakainya," terang Kresna.

   Kresna memang sedang berbicara dengan Arjuna yang dendam kepada Ekalaya. Ia dihidupkan lagi oleh Kresna dengan bunga Wijaya Kusuma. Tapi Arjuna dendam dan merasa terhina.

   Di perkemahan Nisada, Arjuna dan Kresna sedang melenggang bebas karena aji halimunan, sehingga mereka berdua tidak tampak. Mereka sedang mengamati Ekalaya yang berdoa di depan patung Dorna. Arjuna yang tidak dapat dilihat berada di belakangnya.

   "ADJOOW, raden inilah eyang yang sedang meraga sukma. Ketahuilah bahwa Arjuna hidup kembali dan berniat mencuri cincin pusaka itu. Titipkankah kepada eyang !," tiba-tiba mulut patung Dorna bergerak dan bicara kepada Ekalaya. Tetapi sebenarnya itu adalah Sri Kresna yang sedang meraga sukma ke patung Dorna.

   Sebelumnya ia telah mengetahui bahwa Arjuna telah hidup kembali sehingga ia percaya kepada patung dorna. Dia melepas cincin pusaka itu. Lalu diberikan kepada Dorna. Sebenarnya cincin itulah yang membuatnya tak dapat dibunuh.

   Setelah ia melihat ke arah Dorna, ia baru sadar bahwa sebilah keris melayang terbang menghadapnya . Lalu dengan cepat menusuk Ekalaya.

   "Aku tidak rela dengan kematian ini. Kepercayaanku kepadamu telah kau perdayakan. Engkau harus ajal dengan tipu daya bagaikan aku yang kau perdayakan. Oh, dewa agung aku mohon kabulkanlah permintaanku ini," kutukan Ekalaya keluar sebelum akhirnya mati kehabisan darah.

   Gemuruh angin dan guntur pun muncul, tanda bahwa dewata memberikan tanda setuju akan sumpah Ekalaya. Ekalaya pun tak tahu bahwa Arjuna lah yang berbuat tapi Dorna lah yang ia sumpahi. Itulah kutukan untuk Dorna yang akan menjadi pengapesannya.


   Ekalaya yang sukmanya tidak puas dengan kematiannya masuk meraga sukma kepada Raden Destajumena. Dan telah dituliskan oleh dewa agung bahwa Destajumena lah yang akan membalas kepada pendeta Dorna. Sedangkan Ekalaya disangka telah bunuh diri di depan patung Dorna.

   Sri Kresna adalah penjelmaaan Wisnu. Dia seorang satria sejati telah melakukan perbuatan licik. Tapi tidak baginya karena untuk Wisnu, Arjuna adalah alatnya untuk membasmi kejahatan. Sedangkan Ekalaya pendiriannya suci seperti Yudistira. Mati bagi Wisnu tidak ada masalah. Semua manusia pun harus mati. Itulah jalan pikiran Kresna.


   Dari cerita diatas dapat kita simpulkan bahwa arjuna yang kuat, sakti dan menjadi pahlawan indraprasta bahkan penegah pandawa dapat mati akibat kesalahannya sendiri. Langkah dan perbuatan itu ada hasilnya. Siapa yang menanam pohonnya akan memetik juga buahnya. Kematian Arjuna pun merupakan hukuman atas kesalahannya.




> BACA JUGA CERITA SEBELUMNYA
>> MAHABHARATA : LICIKNYA RESI DORNA (BAMBANG EKALAYA)




Artikel Terkait

Description: Mahabharata: Karma untuk Dorna (Bambang Ekalaya) Rating: 4.5 Reviewer: Unknown - ItemReviewed: Mahabharata: Karma untuk Dorna (Bambang Ekalaya)

2 komentar:

  1. Semua yang terjadi adalah suratan takdir manusia hanya bisa melakoninya saja


    BalasHapus
  2. Kalo gk salah arjuna pernah menjalani 3 kali kematian..semua kematian tsb di hidupkan kembali oleh Sri Kresna..karena memang Arjuna di siapkan sebagai andalan Pandawa dalam perang Bharata Yudha kelak

    BalasHapus